Doodle Tumblr Themes
Next Page

Fernweh

Homesick for a place I've never been.

Sang Polisi Baru

ruangnarasi:

Oleh: Moyang Dewimerdeka

Andrinof Maldini baru saja dipromosikan jadi Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Utara. Kasus pertamanya langsung datang sehari selang dia duduk di kantor baru. Ajudannya memberitahu ada wanita tewas tanpa busana di sebuah apartemen di Kelapa Gading.


Wanita Empat Kosong Tiga

ruangnarasi:

Oleh Khairil Hanan

Ini cerita tak dikutip lengkap sesuai faktanya, seperti kebiasaan banyak media online di Indonesia. Patut diduga, wartawan online ini yang bikin cerita. Sebenarnya, wanita itu bukan sekadar ditemukan tak bernyawa, tapi juga dalam keadaan tanpa busana.

Oh ya, namanya…


Kamar 403

ruangnarasi:

Pagi, pukul 10.15. Di sebuah kota yang sedang mengalami pertumbuhan ekonomi tinggi, seorang perempuan ditemukan tewas di apartemennya bernomor 403 oleh seorang janitor yang telah bekerja tiga tahun di apartemen tersebut.

Kematian seorang perempuan tersebut mengherankan seluruh penghuni…


Tentang Ruang Narasi

ruangnarasi:

"Ruang Narasi" adalah tempat dari beberapa orang yang ingin menulis. Untuk memancing "beberapa orang" tersebut, dimulai dari cerita berjudul "Kamar 403" yang terdiri dari lima pargraf. Dari cerita itu, "beberapa orang" tersebut mengembangkannya sesuai imajinasi masing-masing.

Sama halnya dengan…


Gadis Kecil yang Dilamun Air Mata

Aug 21st at 7PM / 0 notes

Tadi adalah kali pertama aku didera gas air mata. Perihnya telah menusuk mata bahkan sebelum hidungku mencium baunya. Asap putih yang merayap tipis itu tak kusangka mampu membuatku panik luar biasa. Masker yang kukenakan tak berdaya menahan asap mencekik pernafasan.

Aku berdiri di tengah jembatan penyeberangan dan tak tahu harus lari ke arah mana. Orang-orang yang juga berlarian menjauhi sumber gas menutup mulut keluar jembatan. Aku ingat harus mendorong beberapa orang sebelum berhasil menemukan jalan keluar. Sementara itu, asap semakin mencekik dan perih menjalari bagian kulitku yang terbuka.

Saat berlari menjauh, aku melihat seorang gadis kecil berbaju merah tua. Rambutnya sebahu dan dia tentu saja berurai air mata. Dia terlihat sendiri dan berulang kali menoleh ke belakang, mungkin terpisah dari orang tuanya. Namun, kukira insting bertahan telah menguasai dan aku terus berlari.

Saat ku ingat lagi sekarang, harusnya aku bisa menggandeng tangan mungil gadis itu dan menuntunnya menjauhi kericuhan. Harusnya aku bisa meminjamkan maskerku untuk menutupi wajah kecilnya yang tak terlindung. Harusnya, pada sepersekian detik aku melihatnya, aku bisa tersadar bahwa gadis kecil itu tak seharusnya berada di sana karena kericuhan itu bukan tentang dia.

Harusnya… Tapi aku lari begitu saja.

Sepertinya aku sama saja dengan manusia-manusia yang tak berbuat apa-apa saat ketidakwajaran terjadi di depan mata.


humansofnewyork:

I normally go into my conversations with a set of proven questions to ask, that I find will elicit a wide variety of anecdotes from people’s lives: happiest moment, saddest moment, things like that. But with people fleeing war, it is absolutely impossible to discuss anything beyond the present moment. Their circumstances are so overpowering, there is absolutely zero room in their minds for any other thoughts. The conversation immediately stalls, because any topic of conversation beyond their present despair seems grossly inappropriate. You realize that without physical security, no other layers of the human experience can exist. “All day they do is cry for home,” she told me. (Dohuk, Iraq)

humansofnewyork:

I normally go into my conversations with a set of proven questions to ask, that I find will elicit a wide variety of anecdotes from people’s lives: happiest moment, saddest moment, things like that. But with people fleeing war, it is absolutely impossible to discuss anything beyond the present moment. Their circumstances are so overpowering, there is absolutely zero room in their minds for any other thoughts. The conversation immediately stalls, because any topic of conversation beyond their present despair seems grossly inappropriate. You realize that without physical security, no other layers of the human experience can exist. “All day they do is cry for home,” she told me. (Dohuk, Iraq)


"

Kau ada, meski segera kusurukkan ke sudut pikir bila kau mengemuka.

Kau ada, dan tahukah betapa sulit membunyikan ini dalam kata karena kataku telah kau curi dengan ada?

"


"School is out for the summer. The sun is beating down on Israel and Gaza. Kids are growing restless. So that they don’t have to pay with their lives for a game of hide-and-seek on a beach, so that they don’t have to duck for cover every time a siren sounds, all eyes should turn to Gaza in hopes that this conflict finally comes to an end."

Jul 19th at 2PM / via: newyorker / op: newyorker / 572 notes

"Sepi membuatku menangis hari ini. Biasanya kami berteman. Tapi kini ia pun membalikkan badan."


Si Penggelisah

May 16th at 9PM / 0 notes

gelisah lampu warung

pekatnya kopi, mengabari kehampaan

tersiar kabar tersirat pesan

coretan di dinding melacurkan tulisan

hina dina sifat mengukir kesombongan

di mana kata egaliter?

kita yang berproses dari awal mencoba meniti jua

sama dengan kaki, mulut dan pena kalian yang lancang

kita berproses dari awal

apa jawaban nanti dari waktu?

apa kita yang bagai kopi secangkir akan terurai

kopi yang telah larut bersama gula dan air panas bisa kembali berpisah?

wahai lampu warung yang gelisah

menjadi kalung berharga ditengah hampa

menjadi saksi diantara saksi yang punya mulut bisu tercela

Velbak, 16 Mei 2014

*Puisi Hermawan, berangkat dari coretan iseng di dinding yang mengoyak marwah.