Doodle Tumblr Themes
Next Page

Fernweh

Homesick for a place I've never been.

Gadis Kecil yang Dilamun Air Mata

Aug 21st at 7PM / 0 notes

Tadi adalah kali pertama aku didera gas air mata. Perihnya telah menusuk mata bahkan sebelum hidungku mencium baunya. Asap putih yang merayap tipis itu tak kusangka mampu membuatku panik luar biasa. Masker yang kukenakan tak berdaya menahan asap mencekik pernafasan.

Aku berdiri di tengah jembatan penyeberangan dan tak tahu harus lari ke arah mana. Orang-orang yang juga berlarian menjauhi sumber gas menutup mulut keluar jembatan. Aku ingat harus mendorong beberapa orang sebelum berhasil menemukan jalan keluar. Sementara itu, asap semakin mencekik dan perih menjalari bagian kulitku yang terbuka.

Saat berlari menjauh, aku melihat seorang gadis kecil berbaju merah tua. Rambutnya sebahu dan dia tentu saja berurai air mata. Dia terlihat sendiri dan berulang kali menoleh ke belakang, mungkin terpisah dari orang tuanya. Namun, kukira insting bertahan telah menguasai dan aku terus berlari.

Saat ku ingat lagi sekarang, harusnya aku bisa menggandeng tangan mungil gadis itu dan menuntunnya menjauhi kericuhan. Harusnya aku bisa meminjamkan maskerku untuk menutupi wajah kecilnya yang tak terlindung. Harusnya, pada sepersekian detik aku melihatnya, aku bisa tersadar bahwa gadis kecil itu tak seharusnya berada di sana karena kericuhan itu bukan tentang dia.

Harusnya… Tapi aku lari begitu saja.

Sepertinya aku sama saja dengan manusia-manusia yang tak berbuat apa-apa saat ketidakwajaran terjadi di depan mata.


humansofnewyork:

I normally go into my conversations with a set of proven questions to ask, that I find will elicit a wide variety of anecdotes from people’s lives: happiest moment, saddest moment, things like that. But with people fleeing war, it is absolutely impossible to discuss anything beyond the present moment. Their circumstances are so overpowering, there is absolutely zero room in their minds for any other thoughts. The conversation immediately stalls, because any topic of conversation beyond their present despair seems grossly inappropriate. You realize that without physical security, no other layers of the human experience can exist. “All day they do is cry for home,” she told me. (Dohuk, Iraq)

humansofnewyork:

I normally go into my conversations with a set of proven questions to ask, that I find will elicit a wide variety of anecdotes from people’s lives: happiest moment, saddest moment, things like that. But with people fleeing war, it is absolutely impossible to discuss anything beyond the present moment. Their circumstances are so overpowering, there is absolutely zero room in their minds for any other thoughts. The conversation immediately stalls, because any topic of conversation beyond their present despair seems grossly inappropriate. You realize that without physical security, no other layers of the human experience can exist. “All day they do is cry for home,” she told me. (Dohuk, Iraq)


"

Kau ada, meski segera kusurukkan ke sudut pikir bila kau mengemuka.

Kau ada, dan tahukah betapa sulit membunyikan ini dalam kata karena kataku telah kau curi dengan ada?

"


"School is out for the summer. The sun is beating down on Israel and Gaza. Kids are growing restless. So that they don’t have to pay with their lives for a game of hide-and-seek on a beach, so that they don’t have to duck for cover every time a siren sounds, all eyes should turn to Gaza in hopes that this conflict finally comes to an end."

Jul 19th at 2PM / via: newyorker / op: newyorker / 571 notes

"Sepi membuatku menangis hari ini. Biasanya kami berteman. Tapi kini ia pun membalikkan badan."


Si Penggelisah

May 16th at 9PM / 0 notes

gelisah lampu warung

pekatnya kopi, mengabari kehampaan

tersiar kabar tersirat pesan

coretan di dinding melacurkan tulisan

hina dina sifat mengukir kesombongan

di mana kata egaliter?

kita yang berproses dari awal mencoba meniti jua

sama dengan kaki, mulut dan pena kalian yang lancang

kita berproses dari awal

apa jawaban nanti dari waktu?

apa kita yang bagai kopi secangkir akan terurai

kopi yang telah larut bersama gula dan air panas bisa kembali berpisah?

wahai lampu warung yang gelisah

menjadi kalung berharga ditengah hampa

menjadi saksi diantara saksi yang punya mulut bisu tercela

Velbak, 16 Mei 2014

*Puisi Hermawan, berangkat dari coretan iseng di dinding yang mengoyak marwah.


Reformasi dari Tepi

May 8th at 12AM / 0 notes

Ia penjaga sebuah rumah peristirahatan di Sirnagalih, Bogor. Jalan hidupnya harus bersilangan dengan perjuangan reformasi.

Mang Dadang sudah 64 tahun. Tubuhnya kurus, beberapa gigi telah hilang, kerutan tampak di kulitnya yang legam, namun jalannya masih tegap. Ketika berbicara, logat Sundanya kental terasa. Dengan fasih ia menyebut nama-nama aktivis era reformasi Indonesia: Goenawan Mohammad, Amien Rais, Ali Sadikin, Emil Salim, Taufik Kiemas, Budiman Sudjatmiko, hingga Munir.

Nama-nama tersebut, menurut dia, pernah bertandang ke Wisma Tempo Sirnagalih (WTS) di Bogor pada era prareformasi. WTS merupakan rumah peristirahatan milik PT Tempo Inti Media yang sejak 1971 menerbitkan majalah mingguan yang mengangkat isu-isu politik.

Mang Dadang adalah penjaga rumah peristirahatan tersebut sejak 1984. Dia tak pernah bersekolah. Sebagai penjaga villa, satu-satunya hal yang ia pahami adalah memastikan keamanan tamu-tamunya. Kebetulan, tamu-tamunya bukan orang biasa. Kisah hidup Mang Dadang pun kemudian menjadi luar biasa. Ini bermula pada 1994, tak lama setelah Kementerian Penerangan mencabut izin terbit majalah berita mingguan Tempo.

Pasca pembredelan Tempo, WTS sering menjadi tempat berkumpul organisasi bawah tanah yang berencana menjatuhkan Soeharto. “AJI dibentuk di sini. Ada juga ISAI, PRD, Pijar Indonesia, partai buruh. Sering kumpul di sini,” tutur Mang Dadang.

Dia ingat suatu malam ketika sekelompok orang membawanya secara paksa. Saat dinaikkan ke mobil, Mang Dadang melihat wajah Abud dan Agung, dua anaknya yang hanya bisa terdiam saat ayah mereka dibawa. Dia dibawa pergi dan dicecar pertanyaan tentang dugaan makar yang direncanakan para aktivis di WTS. “Saya tukang potong rumput dan hanya itu yang saya tahu,” begitu kata Mang Dadang berulang-ulang pada orang-orang yang tak dia ketahui identitasnya itu. Pada akhirnya Mang Dadang mereka turunkan di Cibinong.

Mang Dadang mengaku tak mengerti politik. Orde baru dikenangnya sebagai masa yang nyaman saat beras dua ribu per kilo sudah dianggap sangat mahal. Mang Dadang baru terusik saat rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Soeharto mencabut izin terbit Tempo. Sebagai pekerja Tempo, Mang Dadang terbiasa dengan bonus tiga kali setahun. Meminjam uang pada perusahaan pun mudah. Semua itu buyar saat Tempo dibredel.

Orang-orang berpakaian preman berulang kali mendatangi villa. Pernah enam orang datang pukul 12 malam. Berlagak sebagai pengantar bunga,  mereka memaksa bunga itu harus sampai di tangan Goenawan Mohammad sebagai hadiah ulang tahun. Mang Dadang menilai mereka berbohong. Dia tahu betul hari itu bukan ulang tahun GM, biasa bosnya itu dipanggil. Mang Dadang tak membolehkan mereka masuk. Namun kelompok itu terus memaksa hingga akhirnya mereka dapat masuk dan mengobrak-abrik WTS. Mereka tak menemukan apapun.

Kelompok lain pernah membawa Mang Dadang untuk diinterogasi. Kepalanya dipukuli hingga gigi pun copot agar dia mengaku. “Saya ingat melihat warna merah, kuning, hijau di depan mata waktu kepala saya dipukul. Saya terus pingsan,” dia berkisah.

Masih tak mengaku, mereka menginjak kaki Mang Dadang hingga tiga kuku kakinya lepas. Mang Dadang dipaksa mengepit bulir peluru panas di betisnya. Terakhir, pistol pun ditodongkan ke kening Mang Dadang. “Saya bisa merasakan dingin pistol itu di kening, dinginnya terasa sampai ke hati,” dia mengelus dadanya.

Meski begitu, Mang Dadang selalu menjaga keselamatan tamu-tamunya. Bila mendapat informasi akan ada penggerebekan, Mang Dadang selalu mendesak tamunya untuk segera pergi. Saat malam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dibentuk, sekelompok orang datang tiba-tiba. Para perumus AJI segera bersembunyi atau pura-pura berenang santai di kolam renang villa. Pada kelompok yang datang menanyakan kegiatan apa yang sedang berlangsung, Mang Dadang bersikukuh bilang bahwa itu adalah acara reuni. Mang Dadang juga membiasakan diri untuk bicara dalam kode.

Mardiyah Chamim, kini ketua Tempo Institute, ingat sandi yang biasa digunakan dulu adalah “Darat, laut, udara, aman?” Mang Dadang akan menjawab dengan, “Aman!” Barulah Mardiyah dan kawan-kawannya yang akan mengadakan pertemuan di WTS berani datang ke villa. Itu pun dengan berjalan kaki dan datang terpisah agar tak ketahuan.

Rapat-rapat membahas rencana penggulingan Soeharto pun berjalan lancar dengan pertolongan Mang Dadang. Bila ditanya mengapa dia berani, jawabnya sederhana, “Orang tua mengamanahkan saya untuk selalu menjaga wisma. Saya takut gak berkah kalau tidak memenuhi amanah orang tua.”

Pilihan Mang Dadang ini bukannya tanpa resiko. Oon, istri Mang Dadang, mengaku terus-menerus merasa was-was. Meski demikian, Oon memilih percaya saja pada suaminya. “Paling waktu itu Ibu ngungsi saja ke rumah saudara bawa anak-anak Ibu. Takut mereka kenapa-kenapa,” tutur Oon.

Mang Dadang memang bukan aktor utama kejatuhan Soeharto. Dia hanya siap sedia di tepi, pasang badan bagi para aktor reformasi. Kini reformasi sudah bergulir lebih dari 15 tahun. Mang Dadang sudah kembali ke aktivitasnya yang biasa sebagai pemotong rumput di halaman villa. Oon selalu mempersiapkan makanan bila ada tamu datang ke villa. Namun, Mang Dadang punya kegiatan rutin setiap pagi yakni menonton berita. Dia terus mencari-cari wajah orang yang dulu menyiksanya, siapa tahu mereka akan muncul di televisi. “Kalau ketemu orangnya, saya akan cari lalu tusuk perutnya. Saya dendam!”

Sirnagalih, 6 Mei 2014


corneliapornelia:

Jo’s tweet today (X)

To Fred, Remus, Tonks, and all those beautiful creatures.


May 3rd at 10AM / via: wordporn / op: amandaonwriting / 209,052 notes

amandaonwriting:

11 Untranslatable Words From Other Cultures

Follow the link for the source


Atticus, the man of words.

Atticus, the man of words.